Wanita sang sudah cukup berumur, ingin segera melanjutkan hubungan mereka menuju pelaminan, tapi karena lelaki yang punya tanggung jawab yang tinggi dan ingin membahagiakan wanita itu, dia masih belum siap, karena pekerjaanya bisa dibilang masih belum jelas, lelaki ingin mendapatkan posisi pekerjaan yang lebih mapan daripada ini, supaya wanita tidak merasakan kesusahan yang dia rasakan, tetapi lelaki tidak menceritakan alasannya itu pada wanita, dia hanya memberi alasan, kalau dia masih belum siap bila harus menjalani hubungan berkeluarga.
Hari demi hari wanita itu mulai ragu karena selalu mendapat alasan yang belum jelas dari lelaki bila dia membahas tentang masa depan perkawinan mereka, sang wanita sangat takut lelaki tersebut sudah tidak mencintainya seperti dulu.
Kemudian pada suatu hari muncullah keinginan dari sang wanita untuk mengetes kesetiaan lelaki itu padanya, wanita mengajak lelaki untuk pergi jalan-jalan pada hari libur besok, lelaki menyanggupi keinginan wanita itu. Keesokan harinya lelaki datang untuk menjemput wanita itu, saat lelaki bertemu dengan ibunya, sang ibu menyampaikan pesan dari wanita, bahwa sang wanita tidak mau menemui sang lelaki lagi, katanya dia sudah tidak mau lagi menunggu orang yang tidak tegas dan tidak bertanggung jawab seperti pandangan wanita itu terhadap lelaki tersebut, dan semata-mata semua ini adalah rencana dari wanita untuk mengetes kesetiaan dari lelaki, apakah lelaki akan tetap menunggu wanita atau sudah putus asa dengan keadaan ini. Lelaki itu sangat kecewa mendengar pesan dari ibu wanita itu, dan lelaki itupun pulang dengan sangat sedih dan terpukul.
Setelah beberapa hari wanita berusaha diam dan tidak menghubungi sang lelaki, pada hari ke-tiga, datang seorang teman dan mengabarkan bahwa lelaki itu sudah mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di kamarnya, dan meninggalkan surat yang tertuju pada wanita itu, surat itu berisi, "Apalah artinya hidup tanpa kamu 'CINTA', tak ada guna hembusan nafas tanpamu 'CINTA', mungkin bila Tuhan menghendakinya, aku akan mendapatkan 'CINTA' lain di alam sana ". Seketika sang wanita tersebut tersentak, dadanya sesak, air mata tak tertahankan mengucur dari mata cantiknya, kemudian hanya penyesalanlah yang tersisa di hidupnya kini.
Satu bulan setelah sang lelaki pergi, wanita tetap tak keluar dari kamarnya, matanya lebam, pandangannya kosong menatap ke jendela, pipinya lesung tak bernyawa, senyum manisnyapun kini tak lagi ada, keluarga tidak bisa berbuat apa apa dengan wanita ini, wanita itupun tak menjawab tanya dari mereka. Akhir bulan September pada musim hujan, gerimis sore datang dengan angin dinginnya. Di sudut kamar, wanita itu menerawang ke nirwana, di otaknya hanya muncul keinginan untuk menyusul lelaki pujaannya, dia tak berharap lagi kehidupannya berlanjut, penyesalan itu seperti lubang besar yang ada di otaknya, bergemuruh dihatinya dan mendengung ditelinganya. Pukul 5 sore tepatnya, dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menyayat urat nadinya dengan cuter yang ada di meja kamarnya.
Paginya, semua keluarga tau bahwa wanita ini telah tiada, semua keluarga sudah bisa menerima keadaan ini, karena memang sudah tidak bisa berbuat apa-apa untuk anak wanitanya itu. Wanita itu meninggalkan tulisan yang dia genggam di tangannya yang sudah memutih kaku, berlumuran darah, kertas lusuh itu berisi, "Sampai bertemu di alam sana 'CINTA'.", tulisan terakhir yang merupakan pesan terakhir dari wanita itu adalah semata-mata untuk membalas surat dari lelaki yang dia sangat cintai.
Tak ada yang ingin akhir seperti ini, tak ada yang ingin kisah seperti ini, tapi inilah takdir Tuhan. Karena semata-mata 'CINTA' itu adalah kehendak-Nya dan jodoh itu ada ditanganNya, kita sebagai manusia hanya bisa menjalaninya dan mensyukuri 'CINTA' yang masih bisa kita rasakan saat ini.
Sountrack (Joshua Radin - Girlfriends In A Coma)



